Feeds:
Posts
Comments

13/13/2007

6.00am : bebe called ” jalan pagi di pantai “

Yah, menikmati saat saat semasih tinggal di sanur sebelum balik ke rumah lagi.

Yesterday 12/12/2007

Kemaren dapat sms dari Giri ” my nephew ” Aunty dek pulang dong, kak nyariin terus, bingung, maw ketemu “
Hari niy, bebe lagi ke singaraja, ngadirin temenya yang nikahan, so dari pada bengong sendiri di kost mending pulang rumah.
Sampe rumah, ketemu bapak….
Bapak bilang, duh anaknya bapak yang paling kecil niy menghilang terus, gak pernah di rumah, gak jelas keberadaannya dimana :(
Akhirnya dengerin bapak cerita ” Cerita tentang masa Lalu “

Jam 7.45, udah di kost lagi, terima sms dari bebe, his not feeling well, so he need time to rest in his house.
So Home alone :)
Di mulai dari bersih-bersih kamar, ngepel, bersih kamar mandi.
Akhirnya beres…. mandi trus ngabisin baca buku Gadis Pantai nya Pramoedya Ananta Toer.
Sambil nungguin burung pulang ke sarangnya di pohon depan kamar, akhirnya kecapain dan tidur

Pantai, December 10th2007

Jam 8 malam, udara yang panas, bebe bersama ku duduk di pantai.

Huh serasa Abg, kata ku…. Bebe tersenyum dan bilang seneng berdekatan dengan mu,…. hmmmmm :)

Sunday

Lazy days,
Spent day and night with you.
- Good massage
- Watch good movie, the Note Book
- Dinner with you
- Late night…fall a sleep in your arms

ArrrrrrrrgHHHHH

Pagi buta… 01/12/07 jam 02.05am
Kalimat yang terlontar dari mulut orang yang tidak beradab itu sugguh membuat ku bersedih.
Biasanya aku akan berteriak marah. Tapi untuk kali ini aku hanya berdiam diri, merasa bersalah telah berbagi waktu dengan diri nya.

Kalau pun bisa, aku juga tidak mau seperti begini, kalaupun ingin menyalahkan sang waktu, itu telah terjadi dan berjalan hingga kini

Diam, selama perjalanan pulang….

Lelap tidur dalam pelukannya

Jam 08.30am…
” Him ” Nanti aku akan telpon orang itu, ini masalah kita, aku tidak suka orang lain ikut campur dalam kehidupan ku.
” Me ” hanya bisa menarik nafas, dan mencoba melupakan kejadian itu

Garis HiDup

Ini, di copy dari Gede Prama, tanggal lahir ku, ada sedikit kesamaan :)

20+09+1974 = 2+0+0+9+1+9+7+4 = 32 = 3+2 = 5

Minat dan kemampuannya banyak, petualang, dan progresif adalah beberapa gambaran bagi mereka yang angka garis hidupnya 5. Sebaliknya dari 4, Anda tidak menyukai rutinitas, sehingga pekerjaan sehari-hari yang harus langsung diselesaikan bukan untuk Anda. Selalu berusaha mencari jawaban bagi misteri kehidupan, Anda ingin selalu bebas, independen, dan tidak ada ikatan. Orang-orang dengan garis hidup 5 ini adalah komunikator hebat, dan tahu bagaimana memotivasi orang
lain. Hal ini membuat Anda guru yang baik. Cinta akan petualangan merupakan tema hidup Anda.

Bisa dalam bentuk nyata ataupun hanya dalam pikiran. Apapun itu, Anda selalu antusias untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Banyak potensi Anda, tapi tidak mempunyai arah. Juga seringkali tidak jelas akan keinginan Anda sendiri. Energi yang ada dalam angka garis hidup 5 ini, jika digunakan secara salah menjadikan Anda tidak mempunyai rasa tanggung jawab dalam tugas maupun pengambilan keputusan dalam kehidupan rumah tangga maupun bisnis. Kesukaan pada sensasi dan petualangan bisa menjadikan diri Anda mengutamakan kepuasan diri dan tidak peka pada perasaan orang-orang di sekitar Anda. Bagi mereka yang berada di titik ekstrim negatif, angka garis hidup 5 ini sangat tidak bisa diandalkan dan menomorsatukan diri sendiri. Bagi sebagian
besar, kepribadian ini sangat hedonis, suka bersenang-senang, hidup untuk hari ini, dan tidak mau memikirkan esok hari. Penting bagi Anda untuk bergaul dengan orang yang mempunyai selera dan pola pikir yang tidak jauh berbeda, serta hindari orang-orang serius dan banyak menuntut. Juga penting untuk memilih pekerjaan yang menantang pikiran Anda dan bukannya tugas-tugas yang rutin. Karir terbaik adalah yang berurusan dengan banyak orang, tapi yang terpenting adalah Anda harus punya kebebasan untuk mengekspresikan diri Anda setiap saat.

Copy from Gede Prama

Tentang KiTa

 

Berada di dekat mu

Membuat ku menikmati setiap detiknya

Mencoba memahami arti suatu hubungan

 

Pernah Dalam suatu pagi buta kamu bertanya

Cinta kah kamu terhadap ku

Aku hanya bisa tersenyum dan ingin berteriak

Kamu bertanya tanpa mengespresikan how you feel with me

Selang beberapa waktu hanya short message dari ponsel ku

“ Untuk saat ini saya ingin selalu ada di dekat mu “

Itu jawaban ku.

 

Jika kegalauan dan kemarahan menyelimuti hati

Ingin ku pergi berlari menjauh dari mu

Tapi setiap waktu bertemu, kamu selalu bisa meredamnya

Membuat ku bertanya, Kamu suka dengan Saya

Dengan tatapan mata kamu membalasnya

Kenapa baru sekarang kamu bertanya

Aku suka semuanya tentang kamu

Lalu aku tertidur dalam pelukanmu

 

Hari dan waktu berlalu

Dan masih hingga saat ini

Aku menikmati waktu ku dengan mu

Tertidur didalam pelukanmu

Melihat senyuman mu

Dan berbagi hari dengan mu

  

Kadang ada pernyataan dalam hati

How long this relationship will be

Only hope

Ada jalan yang terbaik untuk kita berdua

 

Bapak

Tergurat sinar keletihan di wajah mu
Dalam usia yang senja
Masih dalam keinginan dan semangat
Untuk selalu berjuang hidup
Menemani anak dan cucumu

Berbagai masa, rasa dan kehidupan telah kau alami
Teringat waktu aku masih kecil dulu
Kenangan manis kami
Waktu berada didekat mu
Menemani mu menjelajahi kehidupan

Pertama aku beranjak pergi Jauh dari sisimu
Bapak mengantar ku dengan senyuman
Baik Baik di Negri orang, begitu kata bapak

Pertama aku mencoba Merokok
Dengan tegar dan senyuman bapak cuman berbisik
Bapak dan Kaka lelakimu tidak merokok
Boleh merokok asal jangan banyak2x

Airmata hanya ada dalam hati
Tak kuasa kadang melihat tubuh ringkih mu dengan alat bantu
Masih dengan keegoisan anak terkecil mu
Yang kadang lupa menemani mu

Cerita sedih dan kegalauan hati selalu tampak
Saat menemani mu, ketika rindu akan berada didekat mu
Bapak hanya bisa tersenyum dan bercerita tentang masa lalu
Bapak tahu kegaluan anak tersayang nya
Yang selalu pergi menghilang dan datang seperti bom waktu

Hanya doa dan keinginan
Agar di usia mu yang semakin senja
Kesehatan dan Kedamaian
Yang selalu ada untuk mu
Cium dan Peluk hangat untuk mu selalu

InterNet

Atas ide Bli Gede Saratiawan ( weks ) akhirna ada internet di depan rumah.
Wuehehehe, gak ketempat laen lagi loh kalo maw nge-net.
Udah kebayang blom kalo yang bakalan ramein internet nya itu adek sepupu, made bojog and aunti mu ini hehehe, gratis lah yah…
BTw Memang ponakan ku yang satu ini ide berwiraswasta nya ok punya. Selain internet doi juga buka usaha Sari Segara pool, salut usia masi muda tapi udah brani ambil langkah kedepan bwat idup nya, duh Aunti mu ini salut kale sama dirimu. Daripada tempat nya dikontrakin ma orang laen, mending di pake sendiri kan.
Berhasil atw nggak itu kan udah ada jalannya..

Maju terus yah de, kalo ada peluang laen buka ajah semuanya, gak ada kata gagal kalo belom coba loh.
Sapa tau nanti Aunti mu ini bisa kerja ama dirimu

Pokokna untuk saat ini Aunti mu salut sama kamu, maju terus John 

LAUGHTER and TEARS

As the Sun withdrew his rays from the garden, and the moon threw cushioned beams upon the flowers, I sat under the trees pondering upon the phenomena of the atmosphere, looking through the branches at the strewn stars which glittered like chips of silver upon a blue carpet; and I could hear from a distance the agitated murmur of the rivulet singing its way briskly into the valley.

When the birds took shelter among the boughs, and the flowers folded their petals, and tremendous silence descended, I heard a rustle of feet though the grass. I took heed and saw a young couple approaching my arbour. The say under a tree where I could see them without being seen.

After he looked about in every direction, I heard the young man saying, “Sit by me, my beloved, and listen to my heart; smile, for your happiness is a symbol of our future; be merry, for the sparkling days rejoice with us.

“My soul is warning me of the doubt in your heart, for doubt in love is a sin. “Soon you will be the owner of this vast land, lighted by this beautiful moon; soon you will be the mistress of my palace, and all the servants and maids will obey your commands.

“Smile, my beloved, like the gold smiles from my father’s coffers.

“My heart refuses to deny you its secret. Twelve months of comfort and travel await us; for a year we will spend my father’s gold at the blue lakes of Switzerland, and viewing the edifices of Italy and Egypt, and resting under the Holy Cedars of Lebanon; you will meet the princesses who will envy you for your jewels and clothes.

“All these things I will do for you; will you be satisfied?”

In a little while I saw them walking and stepping on flowers as the rich step upon the hearts of the poor. As they disappeared from my sight, I commenced to make comparison between love and money, and to analyze their position in the heart.

Money! The source of insincere love; the spring of false light and fortune; the well of poisoned water; the desperation of old age!

I was still wandering in the vast desert of contemplation when a forlorn and spectre-like couple passed by me and sat on the grass; a young man and a young woman who had left their farming shacks in the nearby fields for this cool and solitary place.

After a few moments of complete silence, I heard the following words uttered with sighs from weather-bitten lips, “Shed not tears, my beloved; love that opens our eyes and enslaves our hearts can give us the blessing of patience. Be consoled in our delay our delay, for we have taken an oath and entered Love’s shrine; for our love will ever grow in adversity; for it is in Love’s name that we are suffering the obstacles of poverty and the sharpness of misery and the emptiness of separation. I shall attack these hardships until I triumph and place in your hands a strength that will help over all things to complete the journey of life.

“Love – which is God – will consider our sighs and tears as incense burned at His altar and He will reward us with fortitude. Good-bye, my beloved; I must leave before the heartening moon vanishes.”

A pure voice, combined of the consuming flame of love, and the hopeless bitterness of longing and the resolved sweetness of patience, said, “Good-bye, my beloved.”

They separated, and the elegy to their union was smothered by the wails of my crying heart.

I looked upon slumbering Nature, and with deep reflection discovered the reality of a vast and infinite thing — something no power could demand, influence acquire, nor riches purchase. Nor could it be effaced by the tears of time or deadened by sorrow; a thing which cannot be discovered by the blue lakes of Switzerland or the beautiful edifices of Italy.

It is something that gathers strength with patience, grows despite obstacles, warms in winter, flourishes in spring, casts a breeze in summer, and bears fruit in autumn — I found Love

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.